Domain Karya Budaya
Adat Istiadat, Ritus, Perayaan Ekonomi, Organisasi, Upacara
Lokasi Karya Budaya
Deskripsi Singkat
Kabupaten Lingga yang dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu pernah
menjadi Pusat Kerajan Melayu yang tidak saja membina dan berkembang di bidang
adat dan budaya Melayu pada saat itu juga pembinaan Agama Islam. Adat dan tradisi
yang berkembang juga tidak terlepas dari pengaruh Agama Islam diantaranya seperti
melaksanakan haul jama’ menjelang bulan Ramadhan, kegiatan berzanji pada
peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dan memasang lampu pelite pada 10 hari
Ramadhan terakhir yang puncaknya pada malam 27 Ramadhan.
Tradisi Malam Tujuh Likur di daik, malam ke 10 terakhir bulan puasa
atau Ramadhan ditandai dengan tradisi likur. Sebuah kebiasaan masyarakat yang
telah berlangsung sangat lama dan terus lestari sampai kini.
Adapun rangkaian kegiatan malam tujuh likur ini dilaksanakan di dua
tempat yaitu :
1. Di Mesjid/Mushala
Di mesjid atau mushala
dilaksanakan malam hari selepas shalat taraweh, diadakan zikir dan beratib.
Masyarakat berkumpul di mesjid, mushala untuk melakukan zikir bersama-sama.
Sementara kaum perempuan membawa juadah dari rumah untuk dimakan bersama-sama setelah
pelaksanaan zikir dan beratib atau puji-pujian dan rasa syukur kepada Allah
SWT.
2. Di rumah
Dirumah setelah selesai magrib
sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk tidak menutup pintu rumah dan jendela
rumah, semua dibuka lebar-lebar seraya menghidupkan lampu seterang-terangnya.
Pada masa dahulu setiap rumah menghidupkan colok di beberapa sudut rumah sebagai
penerang. Disetiap perkarangan rumah Dimulai pada malam ke 21 masyarakat
di daik menandai dengan satu buah lampu pelita.Warga menyebutnya malam selikur
atau satu likur. Hal ini terus berlanjut hingga malam penghujung bulan
Ramadhan. Menambah lampu pelita sesuai bilangannya hingga menjadi 7 lampu pelita
yang disusun sedemikian rupa.
Tradisi Tujuh Likur adalah tradisi memasang lampu pelita (lampu
dengan bahan bakar minyak) di perkarangan rumah dan menghias jalan-jalan. Ada
juga masyarakat yang menggunakan lampu listrik sebagai pengganti pelita.
Yang paling istimewa ketika masuk malam ke 27, Malam ganjil.satu
dari malam-malam ganjil yang paling istimewa di bulan suci Ramadhan. Tidak
hanya dipekarangan rumah, ribuan lampu-lampu pelita bakal menghiasi bahu jalan.
Ditambah karya-karya pintu gerbang dengan motif dan corak islami seperti bentuk
kubah masjid, bulan-bintang, gunung-gunung yang dihiasi dengan berbagai
kaligrafi.Ada juga yang hanya menggunakan seni menyusun pelita saja sehingga
membentuk berbagai ornamen maupun bacaan “ Selamat Hari Raya Idul Fitri” yang
kelihatan indah di jalan-jalan pada malam hari. Pembuatan pintu gerbang
biasanya dilakukan oleh para pemuda daerah atau kampung setempat mereka
membuatnya secara bergotong royong secara suka rela, mulai dari pengambilan
bahan-bahan material berupa kayu, papan, bahan buat pelita, dan lain-lain dalam
jumlah yang banyak tergantung besar kecilnya pintu gerbang yang akan dibuat untuk
perayaan malam 7 likur.
Setelah pembuatan pintu gerbang selesai pada satu hari sebelum
malam tujuh likur ada juga pada beberapa pintu gerbang yang mengadakan doa selamat
dan berbuka bersama-sama oleh pemuda dan masyarakat di sekitar pintu gerbang.
Setelah berbuka dan Shalat Magrib barulah semua pelita dinyalakan. Pelaksanaan
perayan malam terakhir Ramadhan bukan hanya sebatas symbol budaya bagi
masyarakat Melayu, tetapi lebih luas yaitu dalam rangka menyambut datangnya
malam seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar.Dimana pada masa ini setiap
idividu akan lebih meningkatkan amal ibadahnya. Berbagai makna tersimpan dalam
pelaksanaan acara likuran atau akhir Ramadhan tidak hanya sebatas penyalaan
lampu tetapi tersirat berbagai makna dan kearifan lokal masyarakat Melayu
dalam memaknai datangnya malam Lailatul Qadar. Penyambutan kedatangan bulan
suci Ramadhan dengan membuat penerangan tradisional merupakan salah satu ujud rasa
kegembiraan atas datangnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah, rahmat dan
ampunan.
Sumber / referensi :
1.
Judul :
PENYUSUNAN RENCANA INDUK PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN KABUPATEN LINGGA
Penerbit : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penannaman Modal
Kabupaten Lingga bekerjasama PT. KUANTAN GRAHA MARGA tahun 2011
2. Link : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/
Pelaku Karya Budaya
| # | Nama Pelaku | Email Pelaku | Alamat Pelaku |
|---|---|---|---|
| 1 | Ramlan | Nama : Ramlan Alamat : Daik, Lingga Telp/Hp : 081223817722 Maestro
2 Nama : LAZUARDY Alamat : Daik, Lingga
Telp/Hp : 085264377740 |