Lokasi Pengetahuan Tradisional
Kamaziah
Jalan Raja Abdurrahman, No 64 RT 03 RW 03.
Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga.
Manfaat Saat Ini
Baju kurung Teluk Belanga merupakan pakaian tradisional Melayu Lingga. Mengenai Baju Kurung Teluk Belanga menurut Zubaidah Shawal (1994)
“Namun demikian ada yang mengatakan bahawa Baju Kurung telah lama wujud di negeri Johor iaitu kira-kira 200 tahun dahulu dan pakaian ini begitu populer di negeri Johor sejak zaman pemerintahan Sultan Abu Bakar di Teluk Belanga, Singapura dan dijadikan pakaian rasmi masyarakat Melayu Johor hingga sekarang.”
Menurut Dato’ Haji Mohd Said Sulaiman dalam bukunya Pakai Patut Melayu ( dalam Ismail, 2006) menyatakan,
“Baju kurung Melayu yang dipakai oleh orang-orang dalam Johor itu asal yang menciptanya al-marhum Sultan Abu Bakar pada tempohnya bersemayam di Teluk Belanga Singapura bila ianya dilantik menjadi Temenggung Seri Maharaja menggantikan Seri Paduka Ayahnya Temenggung Ibrahim Seri Maharaja yang mangkat dalam tahun 1862. Maka pada masa itu yang mulia tengah membuka sebuah Bandar di Tanjung Puteri pada tahun 1866 ditukar namanya Johor Baharu”
Baju kurung Teluk Belanga yang dipakai di sekarang ini berbeda dengan zaman Sultan Abu Bakar. Baju kurung yang dipakai Sultan Abu Bakar dikatakan labuh sampai ke bawah lutut, berpesak, berkekek, sapu tangan, dan tidak berkocek, sedangkan lengannya besar serta labuh dan lehernya dialas halus jahitan mata kia atau tulang peranggi saja (Shawal, 1994)Baju Kurung Teluk Belanga yang dipakai Sultan Abu Bakar kemudian berubah. Menteri Besar Johor, Dato’ Jaafar bin Muhammad dimasa Sultan Ibrahim (1873-1959) telah mengubah bentuk baju kurung Teluk Belanga, labuh baju dinaik hingga keparas punggung, berkocek tiga namun pesak dan kekek masih dipertahankan (Shawal, 1994).
Masuknya baju kurung Teluk Belanga ke Lingga kemungkinan besar di masa di zaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1857-1883) dan kemudian menjadi pakaian kebiasaan orang Melayu Lingga. Baju kurung Teluk Belanga di yang dipakai di Lingga ialah labuh bajunya hingga sampai ke punggung, berkocek dua di bawah kiri dan kanan dibagian perut. Baju teluk belanga di bagian leher tidak menggunakan kerah, bagian leher di jahit tangan yang disebut jahit tikam tulang belut dan berkancing satu dibagian atas dekat leher. Baju ini menggunakan pesak dan kekek. Pesak berada di bagian samping kiri kanan dibawah ketiak hingga kebawah, sedangkan kekek berada dibagian ketiak kiri dan kanan. Pesak dan kekek menjadikan baju lebih longgar dan leluasa dipakai. Di Lingga baju kurung Teluk Belanga di pakai di acara adat istiadat, hari-hari besar Islam dan shalat. Sebagian desa mempunya penjahit baju teluk belanga. Sebagian besar baju dijual setelah ada pemesan yang membutuhkan.
Zubaidah Shawal. (1994). Busana Melayu. Jabatan Muzium dan Antikuiti Malaysia. Kuala Lumpur